Tim penulisan buku

Nggak lengkap kalau saya nggak menjabarkan satu per satu siapa saja orang-orang yang berjasa di balik buku indie Pantang Padam: Catatan Skolioser. Tentu saja karena sifatnya yang indie alias self publish itu, saya harus mencari dan menentukan sendiri siapa-siapa saja yang akan bekerja sama dengan saya.

Dan inilah mereka.

1. Putri Sekar P. (Editor)

Putri atau biasa dipanggil Puput adalah kawan dekat saya sejak SMA. Kalau tidak salah ingat Puput adalah orang pertama yang saya kenal saat pertama kali masuk SMA. Setelah itu karena ternyata lokasi rumah pun masih satu arah maka jadilah kami sering pulang bareng naik angkot. Lulus SMA Puput merantau untuk kuliah di Jogja. Selepas lulus, anak ini pun sudah terlanjur cinta sama kota itu.

Sekitar pertengahan tahun 2012, Puput dan saya hadir di salah satu pernikahan kawan SMA. Sambil reuni dengan yang lain, salah satu kawan yang sedang curhat dan mengalami masa-masa yang cukup sulit saat itu berkata, “Aduh, cerita hidup gw ni sampe bisa dibikin novel dah..”

Puput pun menyambut kata-kata kawan tersebut dengan bilang, “Ya udah lo tulis. Gw mau deh jadi editornya.”

Saya saat itu hanya menjadi pendengar curhat yang baik tapi telinga semakin berdiri saat mendengar kata-kata Puput itu mengingat di dalam diri saya mulai muncul niat untuk menuliskan pengalaman skoliosis menjadi sebuah buku. “Serius mau jadi editor?” saya tiba-tiba menyela tanpa sadar, bertanya pada Puput.

Puput bukan orang baru di dunia tulisan. Opininya sendiri pernah dimuat di surat kabar yang katanya proses seleksinya ketat, meskipun memang baru 1x. Namun sampai sekarang pun ia bekerja sebagai penulis lepas di sebuah majalah. Dengan sifatnya yang sudah saya kenal terbuka alias jujur dan apa adanya (kalau jelek maka ia akan jujur bilang jelek) maka saya percaya ia akan dengan tegas mengedit tulisan saya dengan objektif.

Maka sejak itu mulailah saya mencoba memetakan tulisan dan apa saja yang ada di pikiran mengenai penulisan buku. Mengingat frekuensi bertemu yang jarang karena Puput masih setia bolak-balik Jakarta-Jogja, maka tulisan dan komunikasi mengenai pengeditan tulisan pun lebih banyak dilakukan via email. Selain menjadi penulis lepas, bersama beberapa kawannya Puput saat ini mengembangkan kelompok usaha tani bernama Agriwira.

2. Alma Arif. (Desain cover dan layout)

Pertama mengenal Alma adalah saat berkegiatan di komunitas hutan mangrove Jakarta sekitar 4 tahun lalu. Alma juga pernah bekerja sama dengan saya saat mendesain sebuah buletin yang berisi informasi seputar mangrove. Sewaktu mendesain sampul buku Pantang padam, Alma mengajukan desain sampul yang tidak mengandung unsur tulang belakang melengkung. Awalnya saya sempat tak setuju karena saya berpikir akan lebih mantap jika tulang belakang yang bengkok menjadi poin utama pada sampul. Tapi ketika melihat lagi konsep yang ia usung, yang berfokus pada kata “pantang padam” dan identik dengan cahaya atau lampu dan semacamnya, desain sampulnya oke juga. Warna hitam pada sampul pun diubah menjadi biru agar lebih cerah dan semangat. Beberapa pembaca pun berkomentar bahwa mereka menyukai sampul buku ini.

Dummy pertama
Dummy pertama

Dan ini setelah berubah warna

wpid-IMG_20131221_185447.jpg

3. Taqi. (Ilustrator)

Taqi adalah kawan Abang yang memang berbakat di bidang gambar. Ilustrasinya unik dan khas. Ia bekerja sebagai ilustrator di salah satu media online. Pertama kaliĀ  saya melihat hasil karyanya adalah saat Taqi membuat karikatur foto saya dan Abang yang kami pajang saat hari H pernikahan.

Karena komunikasi dilakukan via email, awalnya ilustrasi mengenai adegan brace yang tersenggol di dalam buskota sempat tidak pas. Saya sempat ingin ilustrasi jenis A, sementara gaya ilustrasi Taqi adalah B. Hal semacam inilah yang harus dibicarakan dan saya juga tidak bisa memaksa Taqi membuat ilustrasi yang tidak identik dengan karyanya. Setelah revisi dan bertemu langsung, pada akhirnya ilustrasi di halaman tersebut sudah cukup menggambarkan apa yang ada di kepala saya hehe. Ilustrasi yang paling saya suka adalah ilustrasi foto saat berada di tengah hutan. Cek juga hasil karya Taqi di sini.

Foto: Mbak Wilda, Jakarta
Foto: Mbak Wilda, Jakarta

*Puput dan Alma termasuk yang rutin melakukan pertemuan dengan saya mengenai perkembangan tahap penulisan dan perjanjian kerja sama di awal. Warung roti bakar dan kedai makan menjadi sasaran tempat pertemuan kami selama beberapa bulan sekali. Setelah buku rampung saya mengadakan pertemuan lagi dengan mereka. Sayang saat itu minus Taqi.

4. Yustika. (Proofreader)

Mbak Yustika adalah skolioser yang juga blogger. Kami saling menyapa lewat blogwalking. Saya sempat lama mencari dan menimbang mengenai siapa yang akan menjadi proofreader alias penyelaras aksara. Keputusan meminta bantuan mbak Yustika untuk menjadi proofreader pun dilakukan saat buku menjelang tahap akhir. Pertimbangan saya akan pilihan terhadap Mbak Yustika menjadi proofreader adalah karena ia rutin menuliskan pengalaman skoliosis dan informasi lain terkait skoliosis dalam blog pribadinya. Maka saya menganggap tentu ia mengerti akan pesan “menulis untuk berbagi” demi tersebarnya kewaspadaan akan skoliosis. Dan feeling saya tak salah. Saat saya memintanya menjadi proofreader, Mbak Yustika berkata kalau ia merasa senang sekali jika bisa ikut ambil bagian dalam tim dan bahwa saat kuliah dulu sempat menjadi editor dalam majalah kampus. Sehingga tentu dunia tulis menulis tak asing untuknya.

Komunikasi dilakukan via jarak jauh. Dummy buku pun harus dikirim ke rumahnya di Bandung. Dua minggu setelahnya, saya tertawa melihat dummy buku yang dipenuhi bukti ketelitiannya. Coretan demi coretan tercantum di mana-mana sampai Mbak Yustika sendiri sempat merasa tak enak. Khawatir saya tidak berkenan katanya. Haha saya malah takjub menyadari bahwa ada banyak sekali tulisan saya yang luput dari mata meski sudah direvisi ulang. Misalnya kata “napas” dan “nafas”, “sekedar” dan “sekadar, dan seterusnya. Inilah pentingnya ada orang lain yang membaca tulisan kita sehingga mengerti betul akan kesalahan yang luput dari mata sendiri.

Pengeditan naskah
Pengeditan naskah

Sampai buku diluncurkan, saya belum pernah bertemu langsung dengan Mbak Yustika. Pertemuan baru terjadi saat acara Meet up Skolioser di Bandung bulan Maret lalu.

Bersama proofreader!
Bersama Mbak Yustika

Terima kasih banyak kepada tim di atas yang sudah berkontribusi secara langsung pada tahap penulisan. Semoga setelah ini nggak kapok ya kerja sama bareng saya hehe. Semoga berkah untuk semua demi kebaikan dan tersebarnya kewaspadaan akan skoliosis dan MVP ini. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *