Review pembaca: Agung Sih

Berkawan dengan Mimpi : Sedikit cerita tentang buku Pantang Padam karya Yulia E.S.

Di hari jumat lalu, saat saya sedang berada di ruang workshop capung, telepon saya bergetar-getar dengan hebatnya… Saya lirik sebentar, dan nampak nama yang tak asing: Bapak Xl. Wah, ada apa bapak nelpon siang-siang seperti ini? entahlah, rasanya juga saya sering menerima telepon dari keluarga di saat kegiatan, meskipun hanya sekedar menanyakan dimana letak kunci kamar, hehe…
Jadi, dari pengalaman-pengalaman berharga itu, saya menutup telepon di saat formal itu, dan segera mengirim sms. Tak lama kemudian, muncul di layar hape balasan yang berbunyi : ada paket dari jakarta… Yup, aku ingat karena memang aku menunggu sebuah buku yang kupesan. Judulnya Pantang Padam, karya mbak Yulia E.S.  Lalu, sepulang dari semarang dan malang, ternyata buku itu mampu menghipnotis saya dalam beberapa waktu lamanya… 2 hari berturut-turut hingga detik saya mengetik tulisan ini.

Bagaimana rasanya jika anda mengetahui bila anda ternyata mengidap sebuah kelainan? Yupp, rupanya di dalam buku ini mbak Yulia menjlentrehkan dengan gamblang sejarah hidupnya yang ternyata mengalami kelainan tulang belakang, justru di masa ia kuliah.

Kelainan ini membuat ia tak boleh mengangkat beban lebih dari 1 kg! Selain itu, ia harus memakai piranti mirip baju zirah zaman kuno yang bernama brace. Mungkin, jika saya membayangkan bentuknya lebih mirip gips yang dikenakan saat patah tulang. Namun, rupanya masih ditambah beberapa piranti merepotkan dan aneh seperti kait-kait besi…

Dan lebih dari semua itu, ia masih berjuang untuk menaklukkan gunung, menaklukkan jalur-jalur pendakian, menaklukkan kedalaman laut bersama manta, dan tentu saja menaklukkan ketidak-percayaan dirinya sendiri akan kondisinya sekarang.

Lalu, bagaimana rasanya jika anda mendapatkan bonus penyakit di saat anda mulai beradaptasi dengan kelainan yang anda miliki? yupp, lagi-lagi, saya terhenyak membayangkaan saat berada dalam posisi penulis, ketika ia di-dok mengidap kelainan katup jantung yang bernama MVP. Dan saya turut membayangkan, merasakan kehidupan mbak Yulia ini tenggelam bersama mimpi-mimpinya yang indah.. ah. Rupanya di sini saya keliru. Ia bukan robocop, suparman, gundam, atau cerita-cerita epik dengan ending yang tentu saya indah. Karena dari dasar perasaan yang dalam, yang menjadi reruntuhan, ia kembali membangunnya. Dan disinilah mau tidak mau, suka tidak suka… saya membandingkan dengan diri sendiri..

Dengan mimpi-mimpi yang sekarang ini, seolah aku berada pada kedalaman sekian meter…. Pada kedalaman sekian meter ini, aku terus melantunkan mimpi-mimpi.”

Bagaimana dengan diriku? Seorang normal…ah, jadi terharu sekaligus… malu. Selama ini aku berkutat dengan pemikiran skeptis,  ketidak pede-an menghadapi masalah, malah ingin segera menyerah…

Yupp, semangat! Aku masih ingin berlanjut dengan mimpi-mimpi yang harus dinyatakan : Meru Betiri harus memiliki buku burung sendiri. Buku yang dapat dibanggakan dan membuatnya menjadi diri sendiri.

Menjadi batu yang dilempar di tengah kolam keheningan pengetahuan yang kami milikimembuncah, dan menggetarkan tulisan lain yang menggambarkan keindahan tanah ini : Capung, kupu-kupu, lumut, jamur, kayu ekonomis, mamalia, dan semua yang dapat disentuh.

Masak hanya karena sindirian orang, langkah jadi terhenti?

Masak karena rumitnya birokrasi mimpi menjadi mati? Masak menghadapi ancaman pelanggaran luar biasa, lalu menyerah? Rasanya, saya pun memiliki everestsendiri di dalam benak ini. Menjadi backpaker,melihat kupu-kupu Goliath, berjalan memasuki gerbang kupu raksasa Bantimurung, melihat Bird of Paradise di Papua, menginjak pantai dengan laut bening di Maluku… ah…

Dan dari buku ini saya belajar mengenali jalan indah, namun tak pernah mudah:

Jika ada dua obat paling manjur di dunia, maka itu adalah membaca buku dan menjadi relawan…

*review diambil dari blog Agung Sih di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *