Testimoni pembaca

Berikut beberapa testimoni yang masuk mengenai buku Pantang Padam: Catatan Skolioser pada #GiveawayApril yang diselenggarakan penulis di sini.

“Bab yg paling kusuka adl, jeng jeng jeng…

1). Bab MVP.

Ada bagian yg kocak favorit sayah 😀 >> hlm. 79
“..ada MVP sedikit | apa? | MVP | APV? | MVP | MPV? | MVP! | MVP? | Iya, MVP.”
trus hlm 76.
Bagian tes echo, yang geli-geli 😀

2) Bab Skoliosis. Suka semua halaman di bab ini. Mengingatkan saya pada masa-masa penyangkalan terhadap skoliosis, gemetaran saat saya mengunjungi dokter ortopedi, dan akhirnya saya harus menerima kenyataan.

Ada kalimat yang pas banget dengan keadaan saya saat penyangkalan, “…saran sang dokter menimbulkan kabut… Menyingkirkan tawa & senyum yg seharusnya tak perlu aku singkirkan.”

3) Bab 2 Kelainan, 2 Kelebihan. Suka semua cerita tentang proses Yulia nemuin bukunya Erik Weihenmeyer. “Mungkin ini serupa dengan Everest yang didaki setiap penjelajah. Semua meninggalkan jejak di sana … Toh tetap tak punya hak menjadi pemilik gunung tertinggi tersebut.”

~ Oleh Mia Nirmala

“… paling suka sama kutipan ini: “Jika ada dua obat paling mujarab di dunia, maka itu adalah ‘membaca buku’ dan ‘menjadi relawan’” (hlm. 143)

alasan: karena it’s so damn true!
1. menjadi relawan itu memberi kesempatan bagi diri kita untuk berbagi. dengan berbagi, kita justru mendapat lebih dari orang lain. ga selalu berupa materi, tapi selalu ada hikmah yang bisa mengayakan jiwa 🙂
2. menjadi relawan itu membuat jiwa kita lebih utuh, karena mengingatkan untuk terus mensyukuri hidup.
3. menjadi relawan itu membuat kita terus bergerak dan membuat hidup kita terisi dengan hal-hal positif.

~ Oleh Yustika K.

“Saya suka hampir seluruh bagian dalam bukunya.
Baru buka udah sedikit bergetar nanya sama diri sendiri, kapan punya buku ada nama saya di cover *agak lebay tapi emang gitu.
Jadi tersipu waktu lihat ada nama saya di rentetan ucapan terima kasih, hehehe 😀
Saya yang emang cengeng, berulang kali netesin air mata bacanya. Inget sama diri sendiri yang juga punya kelainan sejak lahir. Bukan deng, bukan kelainan. Namun, kelebihan yang Allah titipkan dengan cara lain 🙂

Saya juga iri sama jalan-jalannya kak Yulia di buku Pantang Padam, kapan-kapan ajak-ajak dong kak *Lalu kata Kak Yulia siapa elu? Hehehe 😀
Setiap kalimat dalam bukunya bikin saya bangkit. Ketika pertama dengar diagnosa dokter, harus cari sepatu yang cocok, sepulang konser musik, kedinginan waktu kemah, pergolakan batin seandainya banyak yang bertanya tentang brace. Aih buat saya meyakini kata kak Yulia kalau seseorang akan menemukan puncak gunungnya sendiri.

Pokoknya buku Pantang Padam beneran bikin lilin kecil macem saya yang berulang kali tertiup angin, masih berusaha untuk tetap nyala. Meski orang lain, kadang selalu melihat hanya dari sisi yang terlihat.”

~ Oleh Dian Joshua

“Lilin dihadapanku seketika menyala kembali” -part Quality of Life -paling suka bagian ini, diantara smua yg saya suka… Jadi inget saat-saat bertanya ‘kenapa’, ‘why’, sama kondisi dan kehidupan dan menikmati proses dan penemuan pencerahan hidup…..
Yulia, selamat ya….kamu hebat bisa menulis dan jd sebuah buku…

P.s. kayanya kurang info/link komunitas skoliosis/skolioser *atau daku yg kelewatan membaca*”

~ Oleh Wilda

“Akhirnya tamat juga bacanya..:) hampir semua bagian buku ini aku suka.. walau pada awalnya ada ketakutan nggak jelas yg menyerang saat mulai membuka halaman pertama. Itu semua krn sempat ada penyangkalan2 dlm diriku atas skoliosis yg aku derita..
Lembaran2 dalam buku ini benar2 memberikan suntikan semangat, biar nggak merasa jadi orang paling menderita, bahwa keadaan tak akan berubah bila kita tak berusaha..
Nice quote di halaman 143… buku dan relawan, dua hal yg tak bisa dipisahkan dariku.. 🙂

Jadiiii… kesimpulannya, saya suka semua bagian buku ini. Tapi wajib memilih ya? 🙂 jujur, hatiku tersentuh saat momen-momen bersama Bulik Pikoh. Beliau adalah sosok yg luar biasa..

Terima kasih mbak yulia atas tulisannya yg inspiratif ini.. Sukses selalu!”

~ Oleh Yusnia

“Maaf pertama-tama, Saya tidak akan memakai bahasa formal mungkin akan terkesan lebih akrab (padalah sih EYD dan SPOK-nya kurang whahah,maklum ya)

Yang jelas ini buku tiap lembarnya udah bikin Ama nangis Bombay kayak nonton film India T_T, eh tapi waktu cerita ke penulisnya ternyata bilang pas nulis ini ketawa-ketawa.

Chapter “Skoliosis”, ini dia yang bikin Ama paling nangis, kenapa?, karena ini mewakili pengalaman dulu waktu galau whehehe. Dimulai dari rasa sakit (kyknya skolioser aja yang ngerti rasa sakitnya gmn), periksa ke dokter yang dianjurkan pake brace, ngebayangin si brace ini bakal jadi soulmate kita, sampe ngeliat orang tua yang sedih dan kita yang khawatir sama mereka.

Selain itu bagian yang Ama suka BUKUNYA DITANDA TANGANIN sama penulisnya, kece bangetlah ditambah quote “Untuk Ama, mari terus melangkah mari terus berkarya”. Mungkin sama konten isi bukunya kurang nyambung tapi waktu buka pertama kali bukunya ada tulisan itu langsung senyum (serius), karena Ama ngerasa sesame skolioser itu WAJIB saling semangatin, kata-kata itu bikin aku semangat, nuhun teh Yulia .

Ini buku udah keren bangetlah, buktinya bikin Ama nangis whahah. Masukan buat teh Yulia fotonya tolong di perjelas, biar keliatan cantiknya dan lebih eksis whehehe . Selain itu, mungkin dipaparkan lebih banyak pengalaman dukungan internal dan ekternal biar bisa keren gini kayak teh Yulia.
Makasih udah ngundang ke blog ini ya, mohon maaf kalo ada salah-salah kata.

“Dunia itu tempatmu berpetualang, tidak ada yang menghalangimu sekalipun itu kekurangan”

(bolang ya,wheheh)

~ Oleh Ama

Baca juga postingan mengenai testimoni pembaca Pantang Padam: Catatan Skolioser di blog pembaca:

* Dyah blog

* Swiss blog

* Agung Sih blog

Baca juga wawancara dengan penulis oleh seorang mahasiswi bernama Ririn yang tulisannya dapat dibaca di sini

image

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *